Tagged: anak RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Hilyat Bunda AysyaHumayro 10:56 pm on 15 June 2010 Permalink | Reply
    Tags: anak, dewasa   

    Namanya juga anak-anak!! 

    Anak-anak memang kerjaannya bermain dan sambil bermain mereka mempelajari sesuatu utk mengembangkan diri mereka. Setidaknya itulah yang kudapat dari teori-teori tentang psikologi anak.
    Tapi, kadangkala mana tahan kalau menyaksikan mereka bermain di dalam rumah…..waduh berantakanlah mainannya hampir di seluruh sudut rumah. Cuma melihat keceriaan mereka lagi asyik dalam permainannya membuat hati ini lebih mengakomodir, dan sering berkata dalam hati, “Ah biarlah, nanti kalau mereka sudah bosan dengan mainannya baru diberesin”.
    Lucunya anak-anak, mereka suka main sandiwara atau ‘aku jadi apa’. Dua anak balitaku, kalau sedang main ‘aku jadi apa’ ini paling sering memerankan papa dan mama atau main dokter2an. (Apa setiap anak lebih sering memilih peran ini ya? Tanya kenapa? )
    Melihat mereka bermain asyik dan menyenangkan juga. Lucu mendengarkan dialog mereka, seperti “Mama pergi dulu ya, Papa nanti ke kantor kalau Mama udah pulang…” yang jadi papa menyahut, “Iya. Papa mau main sepeda dulu”. Nah lho, xixixixi…..Bagaimana kalau ini terjadi pada dunia orang dewasa. Masak papa berangkat ke kantor musti nunggu si mama pulang.. Kira-kira berapa lama ya perginya? Apa boss-nya papa gak senewen liat anak buahnya masuk sesukanya?? Ada lagi begini, Mbak Aysya jadi bu guru dan Ade Caciif jadi muridnya, sementara Adek Zui belum bisa main, cuma jadi penonton. “Ayo anak-anak baris dulu, mau masuk kelas”, seru ‘Bu Guru’ Mbak. Yang disuruh baris ternyata cuek-cuek aja nonton Dora Explorer lagi nyanyi, “Danau, jembatan, gunung tinggi”. Kontan bu gurunya ngambek dan berteriak kesal. Kalau sudah begitu, adek-adeknya baru mengikuti arahan ‘Bu Guru’ Mbak sambil cengar cengir berceloteh, “ya..ya..ya”.
    Kadangkala waktu mereka bermain ‘aku jadi apa’ ini, timbul salah faham atau tidak akur dengan kata lain berantem, bisa karena ada sesuatu yang diperebutkan. Yah kadang boneka yang mau dipegang atau mainan lainnya. Kalau salah satu sudah nangis, dan lari ke ibunya maka bubarlah permainan itu untuk sementara (karena nanti pasti main lagi). Begitu terus setiap hari dan ketika mereka tidur siang, tinggallah diriku membereskan ruangan yang berantakan dengan segala barang dan mainan yang tadi mereka gunakan. Dalam hati sering terlintas, “Ah anak-anak, semoga Bunda dapat terus bersama kalian dan menyaksikan kalian tumbuh dewasa. Mengasuh dan menjaga kalian bersama Ayah adalah moment moment indah yang pernah Bunda miliki.”
    Tapi kadang kala suka bete juga pas anak-anak lagi bad attitude. Misalnya merengek minta jajan selagi ada tamu. Kayanya kesempatan banget tuh mereka sebab kalau tidak dipenuhi, mereka akan terus bolak balik merengek dan menyela pembicaraan bundanya dengan tamu. Bikin Bunda rada tengsin dan malu sama tamu Bunda. Yah gimana yah, memang begitulah anak-anak. Namanya juga anak-anak!!

     
    • sofie05 8:40 am on 6 July 2010 Permalink | Reply

      hehehhee ya begitulah anak-anak banyak bgt tingkah polah yang lucu :) yang kadang bikin orang dewasa malah tertawa karena ulahnya, bukannya marah2 sm mereka

      oh ya log anda sy tautkan ke blog saya y….. :)
      isinya bagus2 sesuai dengan kehidupan sehari2 pd umumnya

      • Hilyat Bunda AysyaHumayro 1:36 pm on 6 July 2010 Permalink | Reply

        :) iya mbAk..kalau dengerin mereka lagi main ‘aku jadi apa’ lucu banget ….tapi sebenarnya mereka sedang meniru kita …:) Jadi ada benarnya juga ya kalau ingin tau siapa kita, liat anak-anak kita…
        thx banget utk apresiasinya. Saya juga minta izin menautkan blog anda di blog saya. Salam Persaudaraan :)

    • kisna adi kusuma 7:37 am on 16 June 2010 Permalink | Reply

      waduh.. bunda buat blog juga.. jadi pengen buat blog.. tp belum kesampaian.. -_-

      • Hilyat Bunda AysyaHumayro 2:06 pm on 16 June 2010 Permalink | Reply

        :D …Ini blognya udah lumayan lama…udah berapa kali ganti tema/tempale Yang ini terakhir yang dirasa paling enak buat tampilan blog Bunda. Heu atuh bikin blog…ntar undang buat liat blog-nya..ditunggu ya. bei de wei tengkyu sdh mampir disini. wass

  • Hilyat Bunda AysyaHumayro 9:01 pm on 11 June 2010 Permalink | Reply
    Tags: anak, fitrah, sayang   

    “Ayah…kapan tanganku tumbuh kembali?” 

    Pagi tadi suamiku sambil bersiap-siap ke kantor, cerita kalau dia dapat sms bagus dari salah seorang temannya. Ceritanya ada seorang ayah sedang mencuci mobil barunya dan melapnya sehingga semakin kelihatan kilap mobilnya. Tanpa disangka-sangka mobil baru itu dicoret-coret oleh anaknya yang baru berumur lima tahun dan baru bisa baca tulis. Sontak marahlah ia tak tertahankan ketika melihat anaknya sudah meninggalkan goresan di cat mobil. Dia pukul anaknya sekeras-kerasnya berulang kali untuk melampiaskan kekesalannya karena mobil baru miliknya sudah tidak terlihat mulus catnya. Bahkan tangisan kesakitan anaknya pun tidak ia hiraukan, malah membuat dirinya semakin bernafsu memukuli anaknya terutama tangan mungilnya yang sudah berulah itu. Dirinya baru berhenti memukul setelah menyadari bahwa meski anaknya dia pukul berkali-kali toh tidak akan mengembalikan wujud cat mobil seperti sedia kala, tanpa goresan. Tapi sayang, sang ayah sudah terlambat menyadari hal ini karena ia mendapati anaknya mengalami luka parah…kedua tangannya patah. Dengan sangat menyesal dia bawa anaknya ke rumah sakit dan oleh dokter, anaknya dinyatakan harus diamputasi karena tangannya bukan cuma patah tapi juga remuk. Semakin menyesal diri sang ayah apalagi ketika anaknya sadar pasca operasi dan mendapati kedua tangannya sudah tidak ada, bertanya padanya, “Ayah, kapan kedua tanganku akan tumbuh kembali?”….Oh tak kuasa ia menjawab pertanyaan polos anaknya. Ini membuatnya gusar terhadap mobil baru yang dianggapnya sumber dari musibah yang menimpa anaknya. Ia bertekad untuk menghancurkannya karena gara-gara mobil itulah ia jadi lupa diri telah menganiaya anaknya sendiri. Ketika sang Ayah hendak melaksanakan niatnya, tubuhnya mendadak lunglai dan menangis tersedu-sedu di samping mobil yang hendak dihancurkannya setelah ia membaca tulisan anaknya yang berwujud coretan tak jelas. Di situ tertulis AKU SAYANG AYAH….

    Cerita di atas bukanlah kisah nyata tapi ada hikmah yang ingin disampaikan dalam cerita tersebut, bahwa kadangkala atau bahkan kerap kita tidak berupaya memahami anak-anak, apa yang ingin mereka sampaikan kepada kita, serta bagaimana cara mereka mengungkapkannya. Tapi kita sering menghakimi mereka terlebih dahulu dengan ekspresi marah dan tidak suka kita ketika kita merasa ulah mereka telah mengganggu kesibukan orangtuanya. Mungkin kita lebih dulu marah ketika anak batita kita rewel dengan rengekannya yang tak jelas. Tapi kemudian diam setelah kita beri perhatian dan mau mendengarkan bait kata-kata yang mereka luncurkan. Kita juga mungkin lebih sering marah ketika anak-anak bermain di rumah dan menciptakan ruangan bak kapal pecah tanpa kita fahami bahwa yang mereka inginkan adalah ruang untuk merasa nyaman menuangkan imaginasi dan impian kanak-kanak mereka. Rasa kesal dan bayangan betapa lelahnya membereskan itu semua telah menutup penglihatan kita akan keceriaan dan kepercayaan diri mereka dalam mengekspresikan lakon imaginatif pilihan mereka.

    Begitulah anak-anak dengan nalar mereka yang masih terbatas, kadangkala tidak kita fahami pesan apa yang ingin mereka sampaikan lewat semua tingkah laku mereka atau kita malah terlanjur menanggapinya sebagai pihak yang melakukan kesalahan dan pantas mendapat hukuman.Seperti cerita di atas, sang anak dengan kesederhanaan nalar yang dia miliki berupaya mengungkapkan perasaan sayangnya terhadap ayah. Dan ia tidak akan pernah mengira bahwa caranya tersebut tidak diterima ayahnya secara bijak dan positif.

    Meski kita para orang tua dulu juga adalah anak-anak tapi itu tidak cukup membuat para orang tua mampu memahami anak-anak mereka dengan baik. Mungkin hanya segelintir orang tua yang dapat memahami anaknya dengan baik, bahkan bisa menjadi sahabat bagi mereka. Tapi ada satu hal yang mestinya bisa dimiliki oleh setiap orang tua, dan itu merupakan fitrah yang diberikan sang Maha Pencipta di dunia ini kepada manusia, yaitu rasa sayang. Maka sayangilah anak-anak kita. Sudah selayaknya orang tua lebih menyayangi anak-anaknya dibandingkan persoalan keduniawian yang sifatnya hanya sementara ini. Di samping agama pun mengajarkannya. Dengan demikian ia akan berupaya memahami bahasa dan perilaku anaknya, untuk kemudian mengarahkan dan mengajari mereka dalam memilih bahasa dan cara mengekspresikannya seiring pertumbuhan mereka.

     
    • Hilyat Bunda AysyaHumayro 11:07 pm on 12 June 2010 Permalink | Reply

      Menyayangi anak juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dimana beliau bersikap sangat lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak2. Disebutkan bahwa pernah Rasul mengimami shalat kaumnya dan sahabatnya, dan mereka mendapati Rasul sujud sangat lama sehingga timbul kekhawatiran mereka telah terjadi sesuatu thd rasulullah SAW. Usai shalat para shahabat bertanya perihal tersebut dan beliau menjawab bahwa beliau melamakan sujudnya karena pada saat itu anak Ali dan Fatimah ra, yaitu Hasan bin Ali ra yang tidak lain adalah cucu beliau sedang duduk di atas pundak beliau dan beliau tidak ingin menghilangkan kesenangan cucunya saat itu hingga turun dari pundak beliau dgn sendirinya.

  • Hilyat Bunda AysyaHumayro 6:25 pm on 28 May 2010 Permalink | Reply
    Tags: anak, edukasi   

    ADHD (ATTENTION DEFICITS HIPERACTIVITY DISORDER) 

    Apa itu ADHD atau Attention Deficits Hiperactivity Disorder? Tidak banyak yang faham bahkan mengetahui hal ini, namun istilah ADHD dipakai untuk menyebutkan gangguan yang berupa kurangnya perhatian dan hiperaktivitas yang kita temui pada anak dalam banyak bentuk dan perilaku. Atau bila dijelaskan secara sederhana, ADHD adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki masalah perhatian dan pemusatan terhadap kegiatan. Berawal dari masa kanak-kanak dan dapat berlanjut ke masa dewasa.

    Sebagai istilah yang mungkin untuk sebagian kalangan masih awam, ADHD berawal dari hasil penelitian Prof. George F. Still, seorang dokter Inggris pada tahun 1902. Penelitian terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian yang disertai dengan rasa gelisah dan resah. Anak-anak itu mengalami kekurangan yang serius ‘dalam hal kemauan’ yang berasal dari bawaan biologis. Gangguan tersebut diakibatkan oleh sesuatu ‘di dalam’ diri si anak dan bukan karena faktor-faktor lingkungan.

    Sampai saat ini ADHD masih merupakan persoalan yang kontroversial dan banyak dipersoalkan di dunia pendidikan. Ada beberapa bentuk perilaku yang mungkin pernah kita lihat seperti: seorang anak yang tidak pernah bisa duduk di dalam kelas, dia selalu bergerak; atau anak yang melamun saja di kelas, tidak dapat memusatkan perhatian kepada proses belajar dan cenderung tidak bertahan lama untuk menyelesaikan tugas; atau seorang anak yang selalu bosan dengan tugas yang dihadapi dan selalu bergerak ke hal lain.

    Menurut pendapat seorang ahli, ADHD sendiri sebenarnya adalah kondisi neurologis yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, dimana tidak sejalan dengan perkembangan usia anak. Jadi disini, ADHD lebih kepada kegagalan perkembangan dalam fungsi sirkuit otak yang bekerja dalam menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini. Hilangnya regulasi diri ini mengganggu fungsi otak yang lain dalam memelihara perhatian, termasuk dalam kemampuan membedakan reward segera dengan keuntungan yang akan diperoleh di waktu yang akan datang (Barkley, 1998).

    Ada 2 kategori utama perilaku yang tampak pada anak-anak ADHD yaitu : kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas.

    Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
    a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau melakukan kecerobohan dalam mengerjakan tugas, bekerja, atau aktivitas lain.
    b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
    c. Kadang terlihat tidak perhatian ketika berbicara dengan orang lain
    d. Tidak mengikuti perintah dan kegagalan menyelesaikan tugas
    e. Kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas
    f. Kadang menolak, tidak suka, atau enggan terlibat dalam tugas yang memerlukan proses mental yang lama, misalnya: tugas sekolah
    g. Sering kehilangan barang miliknya, misal: mainan, pensil, buku, dll
    h. Mudah terganggu stimulus dari luar
    i. Sering lupa dengan aktivitas sehari-hari

    Sedangkan hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:
    a. gelisah atau sering menggeliat di tempat duduk
    b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
    c. berlari berlebihan atau memanjat-manjat yang tidak tepat situasi (pada remaja atau dewasa terbatas pada perasaan tidak dapat tenang/gelisah)
    d. kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
    e. seolah selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
    f. berbicara terlalu banyak
    g. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai diberikan. (Impulsivitas)
    h. kesulitan menunggu giliran (Impulsivitas)
    i. menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Impulsivitas)

    Terkadang gejala tersebut juga diikuti oleh agresivitas dalam bentuk:
    a. sering mendesak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain
    b. sering memulai perkelahian
    c. menggunakan senjata tajam yang dapat melukai orang lain
    d. berlaku kasar secara fisik terhadap orang lain
    e. menyiksa binatang
    f. menyanggah jika dikonfrontasi dengan korbannya
    g. memaksa orang lain melakukan aktivitas seksual

    Menurut DSM-IV definisi ADHD sendiri adalah sebagai berikut:
    A. (1) atau (2)
    (1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
    (2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

    B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
    C. Gejala-gejala tersebut muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)
    D. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
    E. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).

    Gejala-gejala yang muncul sebagai bentuk kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas terkadang berpengaruh terhadap pengalaman belajar anak karena anak yang menunjukkan gejala-gejala tersebut biasanya akan terlihat selalu gelisah, sulit duduk dan bermain dengan tenang, kesulitan terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan antri, menjawab pertanyaan sebelum selesai ditanyakan, kesulitan mengikuti instruksi detail, kesulitan memelihara perhatian dalam waktu panjang ketika mengerjakan tugas, dan sering salah meletakkan barang.
    Penelitian terakhir menyebutkan bahwa gejala-gejala pada anak ADHD muncul karena mereka tidak dapat menghambat respon-respon impulsif motorik terhadap input-input yang diterima, bukan ketidakmampuan otak dalam menyaring input sensoris seperti cahaya dan suara (Barkley, 1998).
    Walaupun banyak penelitian sudah dilakukan namun sampai saat ini para ahli belum yakin apa penyebab ADHD, namun mereka curiga bahwa sebabnya berkait dengan aspek genetik atau biologis, walaupun mereka juga percaya bahwa lingkungan tumbuh anak juga menentukan perilaku spesifik yang terbentuk. Beberapa faktor yang banyak diduga memicu munculnya gejala ADHD adalah: kelahiran prematur, penggunaan alkohol dan tembakau pada ibu hamil, dan kerusakan otak selama kehamilan. Beberapa faktor lain seperti zat aditif pada makanan, gula, ragi, atau metode pengasuhan anak yang kering juga diduga mendukung munculnya gejala ADHD walaupun belum didukung fakta yang meyakinkan.

    Tanpa perawatan, ADHD dapat menyebabkan permasalahan serius di rumah, sekolah, pekerjaan, dan interaksi sosial di masyarakat.

    Ada beberapa tips bagi para orang tua, guru, dan pemerhati ADHD,  dalam menangani ADHD, semoga tips ini dapat membantu. Adapun tipsnya antara lain:
    1. Menjaga kesehatan diri, hal ini sangat penting karena anda membutuhkan energi yang cukup untuk menangani anak ADHD.
    2. Banyaklah belajar tentang ADHD, karena anda akan lebih mampu untuk membantu anak ADHD jika telah memahaminya.
    3. Belajarlah ketrampilan tentang perilaku anak-anak. Mereka memerlukan bantuan bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang lain secara normal.
    4. Bantulah anak ADHD agar mampu menjaga diri mereka sendiri.
    5. Bantulah anak ADHD supaya dapat bersekolah dengan baik. Hal ini karena ADHD menghambat kemampuan anak untuk bisa berhasil dalam sekolahnya. Dampingi mereka agar akademis, sosial, dan psikisnya tetap terkontrol.
    6. Berikan dan bantu anak ADHD untuk melakukan tugas di rumah. Dibanding dengan anak-anak yang lain, mereka mengalami kesulitan berkomunikasi. Seringnya menghiraukan instruksi menyebabkan kekacauan dalam melakukan tugasnya sehingga menyebabkan ketidakselesaian tugas tersebut.
    7. Sangat diperlukan, kepekaan, kesabaran, keikhlasan, ketekunan, dan ide kreatif agar dapat membantu anak ADHD dalam belajar, berketrampilan, dan memenuhi tugas di rumah dan sekolah.
    8. Aktifkan diri anda. Banyak media yang tersedia, seperti: majalah, koran, CD interaktif, perpustakaan, internet, dan sebagainya.
    Perilaku ADHD dapat di-minimaze, tentunya hal ini memerlukan dukungan yang solid dari lingkungannya. Akan sangat baik sekali apabila seorang anak mendapatkan konsumsi ASI (Air Susu Ibu) yang mencukupi. Hal ini akan membangun daya tahan tubuh/imun bagi anak, sehingga diharapkan anak yang mengalami ADHD memiliki kesehatan tubuh yang lebih baik dan mampu beraktivitas dengan lebih normal.
    Bagi anda yang akan atau baru memasuki dunia ADHD, bergabunglah ke dalam organisasi pemerhati anak di wilayah anda. Salurkan semangat anda ke wadah yang tepat. Banyak manfaat yang bisa anda dapatkan. Selamat berjuang!!.
     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.