Tulisan barune mana, Bund….
Recent Updates Page 2 RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts
-
Mochammad
-
wiangga0409
saya benar2 pendatang baru
salam kenal, bunda
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
ya salam kenal, terimakasih sudah berkunjung
-
-
Triiz
blognyakok bisa gini ya,ajari dunk
salam persahabatan ,-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Salam persahabatan juga…Bisa dicoba mbak, dari dasbor tinggal pilih theme yang kita mau yg sudah disediakan wp. Saya pake P2. nanti ada pilihan di appearance utk custom. Selamat mencoba
-
-
Mochammad
Wah, terima kasih apresiasinya. Dah aku tambahkan di link-ku. Silakan dicek.
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Terima kasih kembali..InsyaAllah saya akan sering kesana utk menuntut ilmu dari jenengan
-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Bau Apa Nih?
Ada bau tidak enak di dapur. Bunda cari dimana sumber baunya sambil mengendus-endus (wedeww.. ^_^). Baunya berasal dari kulkas. Ow..ow..apakah gerangan yang bikin bau ini? Bunda buka kulkas dan mulailah kegiatan utama pagi ini membongkar isi kulkas, sekaligus membersihkannya, secara ini bukan pekerjaan sebentar. Ternyata sumber bau berasal dari freezer. Ada sayuran beku (kacang polong) busuk di dalamnya. Loh koq? padahal kulkas tidak mati. Pikiran pertama yang melintas jangan-jangan pendinginnya rusak mengingat kulkas ini juga sudah umuran. Pikiran selanjutnya waduh TDL khan barusan naik tanggal 1 kemarin dan harga barang-barang kebutuhan pokok dan bahan makanan juga ikut-ikutan naik.
Nah, para sahabat Bunda apa hubungannya kenaikan-kenaikan harga itu sama kulkas rusak? Jelas ada lho, Bunda jadi susah berhemat. Pertama, Bunda kalau belanja bahan makanan sering sekaligus untuk beberapa hari. Selain mengirit waktu yang bisa dipakai untuk pekerjaan lain, juga menekan ongkos pergi bolak-balik ke warung terlengkap yang cukup jauh atau pasar. Jadi bahan makanan tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebelum disimpan di kulkas. Kebayangkan kalau kulkas rusak? Bunda harus tiap hari belanja buat masak hari itu saja. Kedua, kalau ada sisa makanan sayang dong dibuang. Khan lebih baik disimpan untuk makanan nanti karena waktu masaknya sudah mengorbankan waktu, tenaga dan bahan bakar gas. Menurut ilmu ekonomi, itu tidak ekonomis atau tidak menguntungkan karena pengorbanan yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang diperoleh (nah..nah..maksa banget kelihatannya teorinya. Berapa sih Bund nilai matkul ekonominya?)
Ngomongin soal kenaikan TDL. Katanya sih untuk menutupi kekurangan subsidi listrik. Oh jadi listrik kita itu di-subsidi toh? Perasaan bayarnya dari dulu tetap aja mahal dan mulai Juli ini bakal tambah lagi biaya rekeningnya. Coba kita lihat alasannya para petinggi negara ini, dari hasil rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Darwin Saleh disetujui kenaikan yang tingkatnya bervariasi. Golongan Industri berdaya 1300-2200 VA naik 6%, golongan rumah tangga berdaya 1300-5500 VA naik 18%. Sementara golongan rumah tangga berdaya 450-900 VA tidak dinaikkan. Menurut mereka, biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik Rp 144,35 triliun. Tingkat pendapatan yang dibutuhkan PLN (BPP ditambah 8% margin usaha) Rp 155,90 triliun. Pendapatan penjualan tenaga listrik Rp 95,8 triliun. Dibutuhkan subsidi listrik sebesar Rp 60 triliun. Namun alokasi subsidi yang disetujui DPR dalam APBN-P 2010 hanya Rp 55,15 triliun. Ada selisih Rp 4,85 triliun yang harus ditutup oleh pelanggan golongan mampu melalui kenaikan TDL.
Soal hitung-hitungan ini Bunda terus terang tidak terlalu mengerti, bukan mengenai penjumlahan dan pengurangannya karena kalau mengenai itu anak SD juga bisa. Halahh..apa maksudnya sih Bund?
Ya iya lah sebagai bagian dari masyarakat yang juga ikut merasakan dampak kenaikan TDL ini, saya agak sedikit heran tentang penentuan nilai subsidi itu lho. Kenapa sih pemerintah kita ini tidak sekalian saja menyanggupi subsidi ysng Rp 60 triliun itu? Tentunya kenaikan TDL tidak harus terjadi. Atau sekalian dong digratiskan. Betapa menyebalkan sekali ketika mendengar komentar wakil dewan yang terhormat mengenai usulan ini. “Subsidi listrik akan membuat rakyat semakin malas!”, Ya Allah ungkapan ini mereka lontarkan di tengah menyeruaknya rencana pengucuran dana aspirasi bagi anggota dewan yang terhormat itu sebesar Rp 15 milyar per orang. Bayangkan per orang. Uang dari mana tuh ya?
Kenaikan TDL dipastikan menimbulkan efek domino, mulai dari kenaikan harga-harga barang kebutuhan dan barang produk akhir yang dirasakan semua orang karena naiknya ongkos produksi. Bagi masyarakat menengah ke bawah dan yang berpendapatan minim, kenaikan harga barang tentu sangat memberatkan. Untuk kalangan industri, menaikkan harga jual produk demi menutup kenaikan ongkos produksi hampir tidak mungkin karena daya saing produk akan kalah bersaing dengan produk lain terutama barang impor. Sehingga langkah yang paling masuk akal adalah efisiensi biaya melalui pengurangan produksi atau pemangkasan biaya lain termasuk di dalamnya adalah PHK.
Kebijakan kenaikan TDL sebenarnya tidak akan menguntungkan negara apalagi rakyat banyak karena yang muncul adalah turunnya daya saing bagi industri terutama UKM. Padahal daya saing diperlukan untuk bisa bertahan terhadap gempuran produk impor akibat diberlakukannya AFTA, CAFTA dan perjanjian free trade lainnya. Jika industri tidak mampu bertahan, itu artinya akan terjadi pengangguran besar-besaran dan memungkinkan pula terjadi krisis multidimensi. Beban negara semakin bertambah besar. Siapa yang diuntungkan dalam hal ini? Hanya segelintir orang saja.
Hal ini merupakan ciri dari penerapan ideologi kapitalisme mengenai pengelolaan sumber daya alam. Nah sudah ketahuan khan bau apa di balik kenaikan TDL ini? Belum jelas? Ayo mari kita endus-endus lagi supaya bisa kita bersihkan seperti kulkasnya Bunda itu.
Pada 8 Maret 2010 lalu, sebelum SMI hengkang ke amrik dan masih menjabat menteri keuangan,mengatakan bahwa tarif listrik akan naik rata-rata 15%. Alasannya karena pemerintah ingin menaikkan marjin keuntungan PT PLN (persero) dari 5% menjadi 8% (Tempointeraktif.com, 9/3/2010). Loh koq kaya pedagang aja ya? PLN juga menjamin mulai 1 Juli tidak akan ada lagi pemadaman listrik bergilir, tetapi itu artinya PLN mesti menambah pasokan BBM yang berdampak pada bertambahnya pengeluaran PLN untuk biaya produksi energi listrik. Kenapa sih PLN gak pake bahan bakar gas yang lebih irit dan mampu menghemat pengeluaran hingga triliunan? Jika itu dilakukan PLN dari dulu, tentu PLN bisa membangun jaringan baru atau pembangkit baru yang lebih merata dan meniadakan pemadaman listrik bergilir. Apalagi Indonesia punya cadangan gas yang sangat besar. Apa pasal? Gas produksi dalam negeri lebih banyak diekspor dengan kontrak jangka panjang karena Dewan yang terhormat itu telah membuat UU no 22 tahun 2001 tentang migas yang mengamanatkan Domestic Market Obligation (DMO) berupa kewajiban suplai gas untuk kebutuhan dalam negeri hanya 25%. Akibatnya gas Tangguh dialirkan ke Cina dengan harga jual yang amat murah. Blok B Natuna dikontrak untuk mensuplai Singapura selama cadangannya masih ada, Yang kontroversial blok Cepu, Blora akhirnya diserahkan kepada Exxon Mobil meski Pertamina mengklaim mereka mampu mengelola secara mandiri. Tentu ini ironis bukan? Gas milik kita yang sangat kita butuhkan malah dijual ke luar negeri, bahkan dengan harga yang murah. Parahnya lagi pengusahaan gas itu diserahkan pada kontraktor yang hampir semuanya asing. Sementara kita kesulitan memperolehnya termasuk PLN dan mesti mengimpor BBM dengan harga mahal pula. Nah ketahuan khan kalau sumber baunya itu berasal dari UU yang dibuat para anggota Dewan yang terhormat itu. Baunya semakin kuat karena ulah jaringan “mafia” di trading “energi” yang banyak memainkan produk UU demi kepentingan bisnisnya. Ditambah lagi kulkasnya rusak!! Ya, Demokrasi dan kapitalisme yang ditanamkan di negeri yang kaya sumber daya alam ini telah menyengsarakan rakyat banyak dengan pemiskinan. Berlindung di balik UU yang mengatasnamakan kedaulatan dan kekuasaan rakyat, para penjahat dan kaki tangannya merampok harta rakyat. Kulkas rusak ini juga telah menghambat ‘tangan dingin’ penguasa untuk turut campur dalam masalah pengadaan kebutuhan rakyat. Ya, doktrin ideologi kapitalisme telah membatasi campur tangan negara terutama untuk masalah ekonomi seminimal mungkin. Akhirnya negara tak lebih seperti penjual dan rakyat adalah konsumen yang terjebak dalam filosopi kapitalis, siapa yang kuat dialah yang menang (bertahan). Begitu pula dalam pengelolaan SDA ini, kapitalisme menyebabkan pengelolaannya bertumpu pada swasta dan profit oriented.
Tentunya menghilangkan bau kapitalisme ini adalah dengan membersihkan dan membuang sumber baunya keluar dari kulkas selama-lamanya. Mengisi ruangnya dengan aturan-aturan Islam yang menggariskan pemerintah (negara) berkewajiban memelihara urusan dan kemaslahatan rakyat. Tidak ada istilah untung atau rugi dalam memberikan pelayanan kepada rakyat. Islam menetapkan bahwa kekayaan alam seperti gas, minyak, barang tambang, dan padang rumput/tanah yang luas sebagai milik seluruh rakyat yang tidak boleh dikuasai segelintir individu atau swasta apalagi asing. Negara diwajibkan untuk mengelola bukan memiliki yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat, diantaranya dalam bentuk berbagai pelayanan termasuk penyediaan tenaga listrik. Sabda Nabi saw : “Kaum muslim bersekutu dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api” (HR Abu Dawud, Ahmad dan al Baihaqi). Kata api disini bermakna sumber energi termasuk gas, minyak dan listrik. Maka listrik adalah milik umum dan merupakan kepentingan umum yang tidak boleh dikuasai oleh swasta ataupun negara yang bertindak bak pemilik yang menjual barang pribadinya. Negara dapat mengupayakan listrik murah bagi rakyat atau sebatas mengganti biaya pengelolaan yang telah dikeluarkan. Dengan begitu negara dapat mencegah terjadinya pengangguran besar-besaran karena industri dapat berkembang dan berdaya saing tinggi di samping harga-harga kebutuhan pun menjadi murah dan terjangkau bagi rakyat. Pengelolaan seperti ini hanya dapat dilaksanakan jika kita mengambil dan menerapkan ideologi dan sistem Islam berupa penegakkan syariahnya dalam sistem khilafah. Sungguh hal ini tidak boleh ditunda lagi.
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan rasulNya apabila Rasul menyeru kalian menuju sesuatu yang memberi kalian kehidupan” (QS al Anfal [8] : 24).*Bunda juga selesai bersihin kulkasnya dan ternyata eh ternyata…ada yang ngutak-ngatik thermostat-nya ke angka nol..hahh kerjaan para krucil nih kayaknya. Alhamdulillah kulkasnya tidak rusak*
-
kasminel
Tulisan anda bgs sangat menarik dan berani dlm mengungkapkan. Sayang di negara kita sekeras apapun kita berteriak tak akan di dengar. Sekarang yg jujur mlhan yg di kabiri. Kpn kita akan mengalami perubahan yg berarti bagi rakyat kita. Kekayaan alam kita byk tp hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Salam kenal dari saya semoga kita cepat menikmati kondisi yg lebih baik di negara yg kita cintai ini. Mdh2an jgn hanya bertia kenaikan dan kenaikan yg kita dengar, tp mdh2an kita bisa mndapat suasana yg aman dan harga dpt tercangkau oleh masyarakat. Amin
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
thx atas apresiasinya. Salam kenal juga
Saya percaya meski saat ini tidak didengar atau masih sedikit yg menyambut-nya InsyaAllah bila intens dan penuh kesungguhan, gaungnya akan luas terdengar. Tentunya disertai konsistensi niat dan gerak utk menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kesadaran. Maaf mungkin saya terlalu pd menyatakannya.mengingat kenyataan bahwa sekarang yang jujur malahan yang didustakan dan dikucilkan. Semoga kita dapat melihat In
donesia lebih baik ya. Amiin
-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Koq gak berani Mas Muhammad..mang mo komen bagian yg mana?
salam juga -
Mochammad
GAk Berani komen deh…. mungkin itu benar juga
salam,mochammad
http://mochammad4s.wordpress.com/
-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Anak-anak Ayo Ikut Mashiroh!!
29 Juni 2010 Hizbut Tahrir Indonesia wilayah Bandung mengadakan aksi/mashiroh “Tolak Kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik). Bertolak dari Pusdai (Islamic Center Bandung) massa bergerak menuju Gedung Sate.
Kebetulan anak-anak lagi libur kenaikan kelas, maka saya ajak saja semua anak saya ikut aksi. Sebenarnya saya cukup sering membawa mereka (kelima-limanya) setiap ada mashiroh. Berhubung kadang bentrok dengan jadwal mereka sekolah, jadi yang selalu dibawa hanya tiga krucil, mbak Aysya yg masih TK dan dua adiknya. Nah karena pada libur, saya bawa mereka semuanya.
Walaupun acara dimulai pukul 8.30, tetap saja persiapan untuk berangkat ke tempat aksi mesti pagi-pagi. Bahkan sehari sebelumnya sudah dipersiapkan. Apa ya? hmm ya, menyiapkan jilbab hitam untuk Teteh Arina. Karena belum punya jadi diambil dari salah satu jilbab hitam bundanya yang sudah lama tidak terpakai. Dicuci dulu, begitu kering langsung dibawa ke tukang jahit yang masih tetangga untuk dikecilin. Pagi-pagi baju sudah siap, tara…baju lama Bunda jadi baru lagi eh jadi kecil xoxo, pas banget ukurannya buat anak pertama saya.
Ba’da subuh, Bunda ke warung belanja perbekalan, lalu semua sudah mandi, Teteh dan Kaka’ sudah siap, tiga krucil sudah rapi dan good looking, semua sudah sarapan, bekal yang mau dibawa juga sudah siap. Alhamdulillah persiapan sukses dilakukan sejak subuh. Siap berangkat pukul 7.30. Perjalanan ke lokasi kurang lebih 45 menit dari rumah. Bismillah..”Ayo berangkat anak-anak..Let’s go archipelago..baca do’a naik kendaraan jangan lupa”. Eits periksa dulu jendela rumah, keran air, kompor, komputer dan tivi dan kunci pagar (gak sekalian genteng rumah kalee..he..he..).
Di jalan, ada 3 teman yang sudah menunggu. “Ayo kawanku lekas naik, mobilku tak berhenti lama”. hi..hi..hi…
Eh ada yang celingak-celinguk berdua anaknya. Siapa ya? Oh ternyata teman Bunda juga dari sub wilayah lain. “Ikut…ikut…ikut…ikut..” ^_^
Akhirnya sampai juga kami di Pusdai. Agak telat dikit, karena massa yang ikut aksi sudah berbaris rapi. Belum jalan sih. Teteh, Kaka’ dan Mbak semangat ikut dalam barisan. Sayang Bunda gak bisa ikut jalan karena harus tetap nyetir di iringan mobil di belakang. Aa Cacif dan Dek Zui ikut Bunda.
Semangat-semangat! Aa Cacif dan Dek Zui juga ikutan takbir dan hafal yel berikut : “Allaahu Akbar…!!! Kapitalisme..hancurkan..!!! Khilafah..Tegakkan..!!! (sst…meskipun rada cadel)
Begitulah, meskipun masih anak-anak dan mungkin belum mengerti kegiatan orang tuanya, kecuali Teteh dan Kaka’ tentunya, setidaknya sudah terekam dalam benak mereka kata-kata tentang “Kewajiban Tegaknya Khilafah”.
Lihat apa yang mereka lakukan ketika orang dewasa sedang menyimak orasi. Asyik ngemil, minum dan makan….wekekekk…Biarlah karena itu dapat membuat mereka tidak rewel kepanasan. Tetap semangat!!!


-
Adam Kurniawan
Blogwalking nih sob…
Bagus postingannya nih…
Keep posting yah…Ditunggu kunjungan baliknya ya sob…
Jangan lupa tinggalin jejak di postingan terbaru ane ya,
oke…
hehehe…
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Oke InsyaAllah…..Thx juga dah nengok postingan saya
-
-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Sebanyak 245 Juta Penduduk Dunia Berstatus Janda
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK–Istri mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, Cherie Blair, Selasa (22/6) malam waktu New York meluncurkan hasil surveinya tentang nasib para janda di seluruh dunia. Dari hasil surveinya, kini terlihat bahwa jumlah janda di seluruh dunia mencapai 245 juta orang.
Tidak semua mereka memiliki nasib yang menggembirakan. Hasil survei Cherie Blair menunjukkan bahwa 115 juta janda di antaranya kini hidup dalam jurang kemiskinan. Invasi Amerika Serikat (AS) ke Afghanistan telah menjadikan sedikitnya 2 juta perempuan di wilayah tersebut menjadi janda. Sedangkan invasi AS di Irak menjadikan 740 ribu perempuan setempat menjadi janda.
“Di seluruh dunia, sebagian besar janda menjadi korban diskriminasi dan pelecehan,” ujar Cherie Blair. Sebagian mereka, kata dia, juga hidup tanpa mendapatkan bagian harta saat bercerai dengan suaminya. Lebih memprihatinkan lagi, imbuh Cherie Blair, setelah bercerai, para janda itu dikucilkan oleh keluarganya.
Persoalan seperti ini, menurut dia, tidak hanya menjadi milik para janda yang hidup di negara berkembang. Janda-janda yang hidup di Eropa maupun Asia tengah juga mengalami hal serupa. Mereka harus menghadapi kemiskinan, diskriminasi, pelecehan, juga pengucilan dari keluargnya. Dari sekitar 245 juta janda, kini terdapat 500 juta anak tanpa ayah. Mereka sebagian besar juga hidup tanpa rumah, tidak sekolah, juga menjadi korban perdagangan manusia.

Lalu, di manakah negara yang kini dihuni paling banyak janda? Cina berada di urutan pertama dengan 43 juta janda. Kemudian India di urutan kedua dengan 42,4 juta janda, disusul AS dengan 13,6 juta janda, dan Indonesia di urutan keempat dengan 9,4 juta janda. Urutan berikutnya diduduki Jepang dengan 7,4 juta janda, Rusia (7,1 juta janda), Brasil (5,6 juta janda), Jerman (5,1 juta janda), lalu Bangladesh dan Vietnam (masing-masing sekitar 4,7 juta janda).Komentarku : 11-12% adalah korban invasi tentara AS, selebihnya karena faktor lain yang beragam. Tetapi semuanya bisa dipertemukan pada satu titik bahwa tidak adanya khilafah yang melindungi para wanita dan keluarganya dengan aturan islam yang menjamin kemaslahatan mereka, yang menyebabkan nasib wanita jauh dari tanda-tanda kebaikan. Dominasi aturan kapitalisme yang berwatak utama imperialis dan eksploitasi di segala hal merupakan biang keladi kerusakan hidup manusia. Termasuk salah satunya adalah fakta 245 juta penduduk dunia berstatus janda. AS ternyata berada di urutan ke-3 setelah China dan India. Sementara Indonesia ada di bawahnya. Artinya, AS yang jumlah penduduknya lebih sedikit dari Indonesia, ternyata lebih tinggi jumlah wanitanya yang berstatus janda. Tentunya mayoritas mereka bukanlah janda perang seperti di Irak atau Afghanistan melainkan korban perceraian. Dan ini menunjukkan betapa bobroknya nilai kehidupan dan peradaban AS yang dia sebarkan ke negara lain, yaitu nilai kebebasan dan feminisme serta kesetaraan gender yang dipaksakan kepada negara lain lewat jalur struktural maupun kultural.
Hanya Islam dan Khilafah-lah yang terbaik bagi kehidupan manusia. -
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Mulianya Jadi Ibu
Jika ada seseorang yang begitu mulia kedudukannya dalam Islam, maka dia adalah seorang ibu
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah SAW berkata, “Ibumu.” Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu.” Begitulah hingga bertanya yang ketiga kalinya. “Setelah itu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu dulu setelah itu bapakmu.” ( HR. Bukhari – Muslim). Penghormatan Islam yang demikian tinggi terlihat dari didahulukannya Ibu oleh Rasulullah SAW hingga 3 kali baru Ayah. Pun dalam hadist berikut :“ Surga itu dibawah telapak kaki ibu” (HR Akhmad)
Kemuliaan ibu terletak pada perannya dengan hamil, melahirkan, menyusui dan merawat bayinya serta mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Ini bukanlah tugas yang ringan atau sepele, karena ditangannyalah diberikan tanggung jawab untuk membentuk anaknya menjadi apa kelak. Diperlukan kesungguhan dan pengorbanan serta perhatian penuh dari naluri seorang ibu. Tugasnya mengurus anak-anaknya, memenuhi keperluan mereka serta mendidik dan mengajarkan berbagai hal tentunya tidak bisa begitu saja diserahkan sepenuhnya kepada pengasuh anak atau pembantu rumah tangga. Karena Ibu adalah orang pertama bagi anak-anak untuk memperoleh nilai-nilai kehidupan yang mulia terutama agama.Rasulullah bersabda :“Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang istri (ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya. Dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”Hadist ini mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai pengatur (manajer) rumah tangga disamping sebagai guru dan pembimbing untuk anak-anaknya.
Jika kita membaca Al Qur’an surat Luqman : 14“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu – bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kalian kembali.”Ada rasa haru yang menyergap bila mengingat ibu telah mengandung janin selama 9 bulan. Hari demi hari ia semakin merasakan beratnya kandungan yang semakin besar. Kemudian ditambah rasa sakit saat melahirkan dalam kondisi lelah, sakit karena mulas/kontraksi, lemah bahkan sulit bernafas hingga lahirlah bayinya.Tiadalah rasa sakit itu dirasa kecuali demi lahirnya anak yang dia cintai dan ibu kemudian berdo’a kepada Allah agar anak yang baru lahir kelak menjadi anak sehat, saleh dan member warna bahagia dalam hidupnya.Kemudian disusuinya anaknya selama 2 tahun dalam dekapan dan pelukan hangat sehingga bayi merasa nyaman dan aman serta memberikan rasa percaya diri pada seorang bayi sejak dini.Begitulah ibu, baginya waktu-waktu yang dia habiskan demi anak-anaknya, melayani dan mengurus mereka hingga mampu mengurus diri mereka sendiri, lebih berharga timbang ia melakukan aktivitas lain meski hukumnya mubah (pilihan yang boleh dilaksanakan, boleh juga tidak) seperti jalan-jalan, shopping, arisan atau sekedar menonton infotainment dan sinetron yang tidak bermanfaat.Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya sejak awal, sejak dalam kandungan, setelah dilahirkan, disusui, diasuh dan dididik dengan sebaik-baiknya. Karena bagi ibu pahala aktivitas tersebut setara dengan pahala pejuang fii sabilillah di garis terdepan peperangan. Ganjarannya adalah surga.Rasulullah bersabda :“Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang di medan perang fii sabilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu itu, maka sesungguhnya baginya adalah pahala mati syahid.” (HR. Thabrani) -
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Ibu Rumah Tangga ++
“Kerja di mana Bu?” Pertanyaan ini kadang kudapat dari teman lama yang sudah lama tidak bertemu atau seseorang yang ngobrol denganku dalam suatu kesempatan. Kalau kujawab, “Hanya kerja di rumah aja”, biasanya masih ada pertanyaan lanjutan yang diluncurkan, seperti, “Oh buka usaha di rumah ya Bu?”. Tentu saja kujawab bukan dan menjelaskan maksudku adalah jadi ibu rumah tangga dan melakukan pekerjaan rumah tangga sebagaimana ibu rumah tangga lazimnya. “Oh, kirain”, begitu biasanya reaksi mereka dan aku sembari geli dalam hati membayangkan aktivitas rutinku sehari-hari, seperti memandikan para balita dan batita-ku, menyuapi mereka, menghadapi kerewelan mereka, mengantar ke sekolah, mengurus rumah, belanja untuk menu harian lalu memasaknya dan beberapa pekerjaan lainnya. Kadangkala ada juga yang bertanya rada-rada gimana gitu, “Ada yang bantu gak Jeng? (maksudnya pembantu) Khan lumayan jadi bisa kerja diluar, juga buat nambah-nambah atau biar gak jenuh dengan urusan rumah yang membosankan”.Waduh diriku cuma pasang muka mesem-mesem mendengar komentar terakhir tadi. Sebab kusadari, apa yang menjadi dasar atau ukuran dari pertanyaan tersebut tidak terlepas dari standar materi. Padahal pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga sejati bagiku memiliki ukuran yang jauh melebihi materi. Kalaupun ukuran materi dipertimbangkan, kira-kira apa pendapat anda dengan hasil survei yang dilakukan terhadap 18.000 ibu rumah tangga di Toronto sebagaimana yang diungkapkan situs http://www.reuters.com mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari?
Sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan nilai, harga dan gaji yang pantas terhadap pekerjaan para ibu rumah tangga bila mereka digaji. Disebutkan pendapatan mereka per bulan menurut standar penggajian Kanada mencapai $124.000 atau setara Rp1,116 milyar (kurs $1 = Rp9000).
Dengan nilai sebesar itu yang harus diperoleh oleh seorang ibu rumah tangga, tentu hanya seorang CEO sebuah perusahaan besar atau pemilik perusahaan multinasional yang dapat menyamainya. Lena Boltos, seorang surveyor yang melakukan survei dan kalkulasi tersebut mengatakan, “Sebuah kesalahpahaman yang sangat jamak jika pilihan seorang wanita untuk menjadi ibu rumah tangga dianggap lebih mudah dan lebih ringan daripada menjadi wanita karir…”
Maka amatlah disayangkan jika seorang ibu lebih rela mengorbankan urusan rumah tangga dan memilih menyerahkannya kepada pembantu dan baby sitter hanya karena sibuk bekerja demi gaji yang ternyata tidak sebanding dengan nominal di atas.
Dari segi waktu, seorang ibu rumah tangga kadang melakukan pekerjaan rumahnya jauh sebelum terbit fajar dan baru berhenti jika seluruh penghuni rumah lainnya terlelap. Bahkan bagi ibu yang punya batita atau menyusui anaknya mesti terbangun di tengah-tengah tidurnya yang hanya memiliki waktu relatif singkat. Tentu ini melelahkan dan teramat melelahkan bagi ibu yang juga bekerja di luar rumah bila harus bangun malam untuk mengurus keperluan si kecil. Bisa diprediksikan bagaimana pelayanan dan perhatian seorang ibu yang sudah kelelahan terhadap kebutuhan bayi dan batitanya, meski hal ini relatif sifatnya.
Jika dilihat dari pandangan agama, maka Islam tidak melarang para wanita untuk bekerja di luar rumah, akan tetapi Islam telah meletakkan posisi asli wanita sebagai ibu dan pengurus rumah tangga (ummun wa rabbatul bait) sehingga ia bertanggung jawab penuh atas pengurusan rumah tangganya dan perawatan serta pendidikan anaknya. Dengan kata lain mengurus rumah tangga dan menjalankan peran keibuannya adalah wajib sementara bekerja atau memperoleh penghasilan sendiri adalah boleh atau mubah selama tidak melalaikan kewajiban .
Ibunda Khadijah ra. adalah teladan utama para wanita dalam menjalankan fungsi keibuan dan pengurus rumah tangga, mengingat beliau juga adalah pengusaha perniagaan/saudagar. Sejak menikah dengan Muhammad SAW, beliau memilih untuk mengutamakan urusan rumah tangganya, mengurus putra putri Rasul dan setia mendampingi Rasulullah. Memenuhi kebutuhan suami dengan perhatian disertai pengorbanan dan dukungan kepada dakwah kenabian. Memahami tugas Rasulullah tidaklah ringan, beliau dengan rela mendaki bukit yang terjal berkali-kali hanya untuk mengantarkan perbekalan suaminya, padahal diperlukan waktu 3 jam pp agar dapat mencapai Gua Hira tempat Rasul ‘berkhalwat’ dan menerima wahyu Allah. Oleh karenanya beliau mendelegasikan perniagaannya kepada orang lain dan hanya mengontrolnya di lain waktu.
Demikianlah Islam memberikan kedudukan yang mulia dan terhormat kepada ibu rumah tangga sebagaimana yang digambarkan dalam hadist berikut:
Dari Anas ra berkata: “Serombongan wanita mendatangi rasulullah SAW dan berkata Asma binti Yazid, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, apa yang kutanyakan sama dengan pernyataan mereka dan pendapat mereka sama dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepadamu dan membai’atmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami hanyalah tiang penyangga (pengurus) rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum’at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar rumah untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW tertawa dan menoleh kepada para shahabat seraya bersabda, ” Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para shahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu (mengutusmu) bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang disetujuinya, itu semua setimpal (dapat menyamai pahala) dari seluruh amal laki-laki yang kamu sebutkan tadi”.
Maka Asma’ kembali kepada kaumnya sambil bertahlil dan bertakbir karena merasa gembira dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW kepadanya”. (HR al-Baihaqi).Subhanallah! Inilah gambaran Islam tentang posisi ibu yang ditetapkan Allah dan RasulNya sebagai posisi yang mulia. Sehingga tidak layak ada kata-kata yang melemahkan atau mengecilkan peran sebagai ibu rumah tangga bahkan meninggalkannya. Berkaca lebih dalam dari hadist tentang Asma’ di atas, seorang ibu agar dapat mengoptimalkan perannya diharuskan untuk belajar dan meningkatkan pemahaman terhadap dien-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh serombongan wanita yang mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya kepada beliau. Proses pembelajaran ini tidak akan pernah terlepas dari aktivitas dakwah Islam yang tidak hanya dibebankan Allah kepada kaum laki-laki tetapi juga dibebankan kepada para muslimah. Dengan kata lain dalam Islam, muslimah haruslah berada pada posisi utamanya sebagai ummun wa rabbatul sekaligus pengemban dakwah. Oleh karenanya, jadilah ibu rumah ++, yaitu ibu rumah tangga sekaligus pengemban dakwah. Jika pun bekerja dan berkarir, pekerjaannya ini tidak membuatnya melalaikan kedua hal tersebut.
-
sofie05
y seperti itulah kebanyakan org, mereka sering menanyajan apa kerja kita? dimana? berapa gajinya? kalau bilang dirumah jadi ibu rumah tangga, seringnya tanggapan mereka tidak mengenakan, mereka bilang “buat apa dirumah?cuma diam j g da pemasukan, g da penghasilan.mending juga kerja, dapet penghasilan sendiri lebh enak, kalo cuma ngandelin suami mana cukup?” itu pemikiran kebanyakan orang sampe2 terkadanga tugas dan kewajibannya dilalaikan gr2 sibuk cari uang
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
yupp mbAk…meskipun boleh khan kita nyari tambahan apalagi bila kondisi keuangan keluarga membutuhkan dukungan kita..mungkin perlu kreatifitas dan pengorbanan juga agar tidak sampai melalaikan kewajiban. Sebenarnya ada hal lain yg terkait. dimana keluarga membutuhkan jaminan penghidupan yg layak dgn ketersediaan lapangan kerja dan tingkat penghasilan yg mencukupi kebutuhan keluarga.Kalau para suami mendapatkan hal ini, tentunya para ibu RT bisa tenang di rumah dgn tugas dan kewajiban utamanya.
salam kenal ya mbAk
-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
Namanya juga anak-anak!!
Anak-anak memang kerjaannya bermain dan sambil bermain mereka mempelajari sesuatu utk mengembangkan diri mereka. Setidaknya itulah yang kudapat dari teori-teori tentang psikologi anak.
Tapi, kadangkala mana tahan kalau menyaksikan mereka bermain di dalam rumah…..waduh berantakanlah mainannya hampir di seluruh sudut rumah. Cuma melihat keceriaan mereka lagi asyik dalam permainannya membuat hati ini lebih mengakomodir, dan sering berkata dalam hati, “Ah biarlah, nanti kalau mereka sudah bosan dengan mainannya baru diberesin”.
Lucunya anak-anak, mereka suka main sandiwara atau ‘aku jadi apa’. Dua anak balitaku, kalau sedang main ‘aku jadi apa’ ini paling sering memerankan papa dan mama atau main dokter2an. (Apa setiap anak lebih sering memilih peran ini ya? Tanya kenapa? )
Melihat mereka bermain asyik dan menyenangkan juga. Lucu mendengarkan dialog mereka, seperti “Mama pergi dulu ya, Papa nanti ke kantor kalau Mama udah pulang…” yang jadi papa menyahut, “Iya. Papa mau main sepeda dulu”. Nah lho, xixixixi…..Bagaimana kalau ini terjadi pada dunia orang dewasa. Masak papa berangkat ke kantor musti nunggu si mama pulang.. Kira-kira berapa lama ya perginya? Apa boss-nya papa gak senewen liat anak buahnya masuk sesukanya?? Ada lagi begini, Mbak Aysya jadi bu guru dan Ade Caciif jadi muridnya, sementara Adek Zui belum bisa main, cuma jadi penonton. “Ayo anak-anak baris dulu, mau masuk kelas”, seru ‘Bu Guru’ Mbak. Yang disuruh baris ternyata cuek-cuek aja nonton Dora Explorer lagi nyanyi, “Danau, jembatan, gunung tinggi”. Kontan bu gurunya ngambek dan berteriak kesal. Kalau sudah begitu, adek-adeknya baru mengikuti arahan ‘Bu Guru’ Mbak sambil cengar cengir berceloteh, “ya..ya..ya”.
Kadangkala waktu mereka bermain ‘aku jadi apa’ ini, timbul salah faham atau tidak akur dengan kata lain berantem, bisa karena ada sesuatu yang diperebutkan. Yah kadang boneka yang mau dipegang atau mainan lainnya. Kalau salah satu sudah nangis, dan lari ke ibunya maka bubarlah permainan itu untuk sementara (karena nanti pasti main lagi). Begitu terus setiap hari dan ketika mereka tidur siang, tinggallah diriku membereskan ruangan yang berantakan dengan segala barang dan mainan yang tadi mereka gunakan. Dalam hati sering terlintas, “Ah anak-anak, semoga Bunda dapat terus bersama kalian dan menyaksikan kalian tumbuh dewasa. Mengasuh dan menjaga kalian bersama Ayah adalah moment moment indah yang pernah Bunda miliki.”
Tapi kadang kala suka bete juga pas anak-anak lagi bad attitude. Misalnya merengek minta jajan selagi ada tamu. Kayanya kesempatan banget tuh mereka sebab kalau tidak dipenuhi, mereka akan terus bolak balik merengek dan menyela pembicaraan bundanya dengan tamu. Bikin Bunda rada tengsin dan malu sama tamu Bunda. Yah gimana yah, memang begitulah anak-anak. Namanya juga anak-anak!!
-
sofie05
hehehhee ya begitulah anak-anak banyak bgt tingkah polah yang lucu
yang kadang bikin orang dewasa malah tertawa karena ulahnya, bukannya marah2 sm merekaoh ya log anda sy tautkan ke blog saya y…..

isinya bagus2 sesuai dengan kehidupan sehari2 pd umumnya-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
iya mbAk..kalau dengerin mereka lagi main ‘aku jadi apa’ lucu banget ….tapi sebenarnya mereka sedang meniru kita …:) Jadi ada benarnya juga ya kalau ingin tau siapa kita, liat anak-anak kita…
thx banget utk apresiasinya. Saya juga minta izin menautkan blog anda di blog saya. Salam Persaudaraan
-
-
kisna adi kusuma
waduh.. bunda buat blog juga.. jadi pengen buat blog.. tp belum kesampaian.. -_-
-
Hilyat Bunda AysyaHumayro
…Ini blognya udah lumayan lama…udah berapa kali ganti tema/tempale Yang ini terakhir yang dirasa paling enak buat tampilan blog Bunda. Heu atuh bikin blog…ntar undang buat liat blog-nya..ditunggu ya. bei de wei tengkyu sdh mampir disini. wass
-


Hilyat Bunda AysyaHumayro 5:04 pm on 5 July 2010 Permalink |
Belum ada ide ki Mas, ya maklum masih harus banyak belajar n latihan